Home Authors Posts by humas

humas

153 POSTS 0 COMMENTS

Bonus Demografi Harus Mampu Meningkatkan Daya Saing Bangsa

0

Prof. Ir. Rochmadi, SU, Ph.D, guru besar Teknik Kimia UGM hadir sebagai Keynote Speaker Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2018 di Auditorium IST AKPRIND Yogyakarta, Sabtu (15/9) melihat hadirnya bonus demografi di Indonesia pada tahun  2025-2035, dimana jumlah  penduduk usia produktif cukup banyak harus dimaksimalkan potensinya agar tidak membebani negara ini namun mampu untuk meningkatkan daya saing serta kemandirian Indonesia di segala bidang.

Bagi Prof. Rochmadi, filosofi pendidikannya Ki Hadjar Dewantara ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani masih tetap relevan sampai saat ini, yang bisa digabungkan dengan sistem Pendidikan 4.0. Sebagian dari penduduk usia produktif pada tahun  2025-2035 tersebut adalah generasi milenial dan generasi Z, yang saat ini baru pada tahap pendidikan dan tahap memasuki dunia kerja. Mereka itu menentukan nasib bangsa Indonesia di masa depan. Dengan segala kelebihan dan kekurangan sifat mereka, sistem pendidikan yang tepat untuk mereka perlu dirancang, agar generasi milenial dan Z ini pada saatnya nanti dalam memimpin, bangsa Indonesia menjadi mandiri di segala bidang.

Prof. Rochmadi, menambahkan pada saat era serba IT dengan dilandasi oleh kecerdasan buatan. Sehingga semua kebutuhan manusia dapat dipenuhi dengan relatif mudah, meskipun di sisi lain, sifat dan struktur kelompok manusia (masyarakat) juga ikut terpengaruh oleh perubahan teknologi manusia ini. Akibat dari perubahan dan kemajuan ini, bangsa yang kurang siap dengan perubahan ini bisa menjadi bangsa yang tergantung pada bangsa lain yang lebih menguasai perubahan dan kemajuan teknologi ini. Demikian juga dengan nasib bangsa Indonesia. Bila tidak siap dan tidak menguasai perubahan dan kemajuan ini, kita akan tergantung kepada bangsa lain, di bidang apapun. Nasib bangsa ditentukan oleh bangsa itu sendiri dalam hal ini menyangkut karakter manusia dari bangsa itu. Bangsa yang ulet, tekun, rajin, kreatif dan inovatif, tidak pernah menyerah, digabung dengan sifat koordinatif, bekerja secara tim, berintegritas tinggi, bangsa tersebut akan unggul terhadap bangsa lain. Semua ini pada dasarnya berasal dari unsur yang paling dasar dari bangsa itu, yaitu angkatan muda (pemuda), yang merupakan pemimpin bangsa masa depan. Karakter angkatan muda akan mempengaruhi nasib bangsa yang akan datang.Oleh karena itu, pengembangan angkatan muda ke arah yang tepat sangat penting, agar kelak bangsa Indonesia menjadi bangsa yang mandiri, tidak menjadi ekor bangsa lain. Salah satu kunci pengembangan angkatan muda tersebut terletak pada pendidikan angkatan muda; bagaimana mendidik dengan tepat agar pada saatnya nanti, saat mereka memimpin bangsa, menjadikan bangsa Indonesia mandiri dan unggul. Dengan kata lain, pendidikan menjadi kunci yang sangat vital, yang akan menentukan masa depan Indonesia, tambahnya.

Seminar Sains dan Teknologi (SNAST) tahun 2018 ini merupakan penyelenggaraan yang ke 7. Tahun ini SNAST mengambil tema “Aplikasi Sains dan Teknologi yang Berwawasan Lingkungan untuk Peningkatan Daya Saing Bangsa” dan diikuti oleh 142 pemakalah yang akan dibagi dalam 14 kelas pararel sesuai dengan topik untuk mempresentasikan hasil-hasil penelitiannya. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menjadi media diseminasi informasi hasil penelitian antar peneliti, perekayasa, praktisi industri, ilmuwan, para akademisi maupun pengambil kebijakan dan diharapkan dapat memperluas social networking serta dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan teknologi dan pemanfaatannya bagi kesejahteraan bangsa dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.  (tdj)

Energi Terbarukan, Tantangan dan Peluang Masa Depan

0

Mantan Direktur PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI), Ir. Sugeng Riyadi, M.M., dalam Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2018 di IST AKPRIND Yogyakarta, Sabtu (16/9) mengatakan bahwa minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia masih menjadi bahan sumber enrgi utama di Indonesia.  Menurutnya industri migas secara umum melakukan lima tahapan kegiatan, yaitu eksplorasi, produksi, pengolahan, transportasi, dan pemasaran. Lima kegiatan pokok tersebut dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu kegiatan hulu (upstream) dan kegiatan hilir (downstream). Menurut Kegiatan usaha hulu migas merupakan kegiatan eksplorasi (studi: geologi dan geofisika, survei seismik, dan pengeboran eksplorasi. Kegiatan ini bertujuan mencari cadangan baru dan Kegiatan produksi adalah mengangkat migas ke permukaan bumi, sedangkan kegiatan usaha hilir adalah pengolahan, transportasi, dan pemasaran.

Sugeng Riyadi yang hadir sebagai invited speaker SNAST 2018 tersebut menambahkan tantangan utama dalam sub sektor migas ada pada kebijakan, usaha inti serta kaidah keteknikan dan lingkungan. Tantangan dalam hal kebijakan antara lain adalah   keseimbangan antara peningkatan devisa dengan pemenuhan migas domestik. Selain itu juga kepentingan nasional serta investor ditambah bagaimana caranya meningkatkan pasokan bahan baku. Sementara pada usaha inti migas, seringnya tumpang tindih lahan dan lamanya waktu dari tahapan eksplorasi hingga produksi menjadi tantanga utama, ditambah lagi terbatasnya kapasitas pengolahan dan pendistribusian yang terbatas. Menurut Sugeng Riyadi, sumber energi terbarukan yang terdapat pada sejumlah wilayah belum dimanfaatkan secara maksimal. Sumber energi yang potensial digunakan untuk pembangkit linstrik antara lain adalah tenaga air (hydro power), Geithermal, mini hydropower, biomassa, matahari, angin serta gelombang laut.  Namun secara teoritis potensi energi angin di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara lain di dunia. Kecepatan angin terbaik yang dimiliki Indonesia hanya di wilayah Sulawesi Selatan, Sumba dan Timor barat yang memiliki kecepatan 6m/detik, sementara daerah laih justru lebih rendah lagi sehingga menghambat penggunaan turbin besar dengan kapasitas diatas 1 Megawatt. Pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan secara signifikan pada tahun 2025. Targetnya listrik terpasang pada tahun tersebut sebesar 15% dari total kebutuhan atau sekitar 12,5 Giga Watt.

Seminar Sains dan Teknologi (SNAST) tahun 2018 ini merupakan penyelenggaraan yang ke 7. Tahun ini SNAST mengambil tema “Aplikasi Sains dan Teknologi yang Berwawasan Lingkungan untuk Peningkatan Daya Saing Bangsa” dan diikuti oleh 142 pemakalah yang akan dibagi dalam 14 kelas pararel sesuai dengan topik untuk mempresentasikan hasil-hasil penelitiannya. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menjadi media diseminasi informasi hasil penelitian antar peneliti, perekayasa, praktisi industri, ilmuwan, para akademisi maupun pengambil kebijakan dan diharapkan dapat memperluas social networking serta dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan teknologi dan pemanfaatannya bagi kesejahteraan bangsa dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.  (tdj)

”Aplikasi Sains dan Teknologi Berwawasan Lingkungan untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa”

0

Era globalisasi merupakan era masyarakat pengetahuan (knowledge society) sehingga masyarakat bukan lagi bertumpu pada alam, namun pada pengetahuan.  Implikasi dari globalisasi membuat bangsa di dunia berpacu untuk menguasai pengetahuan. Suka atau tidak suka, daya saing suatu bangsa ditentukan oleh kemampuannya dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Demikian disampaikan oleh Rektor IST AKPRIND Yogyakarta, Dr. Ir. Amir Hamzah, M.T saat membuka Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2018 di Auditorium Kampus I, Sabtu (15/9).

Rektor menambahkan bahwa pengetahuan akan menjadi alat (tools) bangsa (negara) dalam memperebutkan pengaruh dan pasar di arena global.  Globalisasi jelas akan memihak kekuatan-kekuatan besar dunia dan merugikan pihak-pihak yang lemah. Sehingga penguasaan akan IPTEK merupakan suatu solusi yang tepat. Upaya dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dimulai dengan membangun kualitas SDM yang berkelanjutan terutama dalam meningkatkan daya saing bangsa. Parameter daya saing bangsa dapat juga dibaca dari ekonomi dan industri. Data yang menunjukkan besarnya ketergantungan bangsa ini dari luar negeri menunjukkan masih rendahnya daya saing Indonesia. Ketergantungan teknologi instrumen seperti sensor, teknik pengukuran dan kalibrasi yang banyak digunakan oleh industri dalam negeri masih banyak bergantung impor. Industri otomotif dari segi bahan baku, impor komponen otomotif mencapai 80%. Ketergantungan teknologi pertanian dan komoditas pertanian memposisikan Indonesia menjadi negara importir pangan. Dari potret impor berbagai komoditas, dari pangan sampai teknologi cukup memberikan gambaran bagaimana masih rendahnya daya saing bangsa Indonesia.

Purnawan, S.T., M.Eng., C.WS selaku ketua Panitia SNAST2018 mengungkapkan bahwa SNAST ini sengaja diselenggarakan oleh Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta untuk mendiseminasikan hasil karya penelitian ilmiah agar tercipta komunikasi antara akademisi dan peneliti, praktisi industri, perencana, yang mengangkat persoalan-persoalan nyata di bidang sains dan teknologi. Melalui seminar yang mengangkat tema ”Aplikasi Sains dan Teknologi berwawasan lingkungan untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa”ini diharapkan pula dapat dijalin kerjasama yang sinergis antara Perguruan Tinggi dengan industri serta pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan hasil penelitian yang dilaksanakan di Perguruan Tinggi dalam rangka mengaplikasikan hasil-hasil sains dan teknologi untuk meningkatkan kemandirian. Atas dasar itulah, Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) yang pada tahun 2018 mengambil tema .  Seminar ini diikuti oleh kurang lebih 142 pemakalah dari berbagai Perguruan Tinggi dan Lembaga riset  di Indonesia. Seminar ini menghadirkan  Prof.Ir. Rochmadi, S.U., Ph.D, Guru Besar Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada sebagai keynote speaker serta Ir.H. Sugeng Riyadi, MM, mantan Direktur Pertamina Drilling Services Indonesia (PT. PDSI) sebagai invited speaker  dalam seminar ini. (tdj)