5R Bukan Sekedar Bayangan Namun Harus di Implementasikan

0
36

5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) merupakan budaya organisasi tentang bagaimana individu dalam organisasi tersebut memperlakukan tempat kerjanya secara benar yang diadopsi dari istilah Jepang yang sering disebut 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke). Dengan menerapkan 5R, diharapkan meningkatkan efisiensi dan kualitas ditempat kerja dengan mengelola tempat kerja yang baik dan berkelanjutan. Demikian disampaikan oleh Ir. Joko Susetyo, M.T., selaku ketua panitia Workshop Penerapan 5R dalam Lingkungan kerja bagi Pegawai IST AKPRIND Yogyakarta untuk Peningkatan Etos dan Budaya Kera, di Auditorium IST AKPRIND, SAbtu (02/3).

Workshop yang dibuka oleh Rektor IST AKPRIND, Dr. Ir. Amir Hamzah, M.T, tersebut diikuti oleh jajaran Pimpinan, mulai dari Rektor, Wakil Rektor 1,2 dan 3, Dekan, Ketua Jurusan, Kepala Badan, Kepala Lembaga, Kepala UPT, hingga Biro Administrasi serta tenaga kependidikan di lingkungan IST AKPRIND. Menghadirkan narasumber Dr. R. Agus Basuki, M.M.,QIA, seorang trainer dan konsultan ahli dari Pusat Training Perbankan Daerah Istimewa Yogyakarta, workshop ini diikuti oleh tak kurang dari 150 peserta.

MenurutĀ  Dr. R. Agus Basuki, M.M.,QIA, konsep ini pertama kali dikenalkan di Jepang, dan pada tahun 1986 mulai dikenalkan di negara Asia lainnya dan merambah ke Eropa. Alasan penerapan 5R, tempat kerja akan terlihat lebih bersih dan nyaman untuk dipandang. Hasil yang enak dipandang mata, akan memberikan motivasi tersendiri bagi anggota organisasi. Agus Basuki menambahkan, kunci utama penerapan 5R, harus diawali komitmen dari pucuk pimpinan dan dilakukan pelatihan dan pendidikan. Setelah itu baru dilaksanakan dengan partisipasi penuh seluruh pegawai. Beberapa masalah yang sering dihadapi oleh institusi adalah adanya mental pegawai yang sakit. Pegawai dengan mental kurangnya motivasi, kurang terampil, kurang loyal, kurang menghargai waktu, kurang disiplin, sering mangkir, berkerja sal-asalan, suka mengeluh, akan mengganggu perkembangan dan berjalannya institusi. Sehingga dibutuhkan budaya dan perilaku yang unggul untuk berpikir dan bertindak menghasilkan yang terbaik, berorientasi masa depan, adaptif terhadap perubahan, bergairah menjadi pionir dan tetap menjaga kekompakan, pungkas Agus Basuki. (tdj)