Tekankan Kesehatan Mental Mahasiswa: IST AKPRIND Hadirkan Praktisi Psikologi

0
86

Seminar bertajuk “Peran Dosen Sebagai Lini Depan Penanganan Gangguan Mental Mahasiswa” digelar di Auditorium Kampus 1 IST AKPRIND, Senin (5/2). Acara tersebut dihadiri oleh seluruh dosen IST AKPRIND, serta perwakilan dosen dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Politeknik LPP, dan Politeknik YKPN, serta Guru Bimbingan Konseling dari SMK Perindustrian Yogyakarta.

Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Rektor Dr. Edhy Sutanta, S.T., M.Kom., yang menyampaikan sambutan mengenai pentingnya peran dan keterlibatan dosen dalam menangani gangguan mental di kalangan mahasiswa. Ia menekankan bahwa tugas dosen tidak hanya sebatas mengajar, tetapi mendidik dan membimbing mahasiswa. Ia juga mengajak seluruh dosen untuk menjalankan peran mereka sebagai garda terdepan dalam penanganan masalah kesehatan mental mahasiswa.

Nanang Erma Gunawan, M.Ed., Ph.D., serta Dr. Suwarjo, M.A., dari UPT Layanan Bimbingan dan Konseling UNY, menjadi narasumber pertama dan kedua pada seminar tersebut. Nanang menyampaikan paparan mengenai mitos dan fakta seputar kesehatan mental, serta menggambarkan situasi darurat kesehatan mental yang semakin meningkat. Sementara itu, Suwarjo menyajikan data dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia yang menunjukkan bahwa satu dari sepuluh pemuda usia 15-24 tahun mengalami gangguan mental emosional. Faktor-faktor seperti tekanan akademik, perundungan, masalah keluarga, dan ekonomi menjadi penyebab utama depresi pada remaja.

Sementara itu, narasumber ketiga, Vequentina Puspa Indah, M.Psi., Psikolog Klinis Klinik AKPRIND by Klinik Kampus, turut memberikan materi mengenai fenomena bunuh diri yang marak di kalangan mahasiswa. Ia menyampaikan tentang adaptasi peran, stres akademik, coping stress, quarter-life crisis, dan perilaku self-harm (NSSI) yang menjadi stressor bagi mahasiswa. Vequentina menekankan pentingnya perguruan tinggi dalam memahami kompleksitas emosi mahasiswa, meningkatkan literasi kesehatan mental, mempromosikan perilaku mencari bantuan ke profesional kesehatan mental, menyediakan aktivitas yang mempromosikan kesejahteraan, serta menyediakan layanan konseling bagi mahasiswa.

Dalam sesi diskusi, para dosen berbagi pengalaman dan strategi dalam menangani gangguan mental mahasiswa di lingkungan akademik. Mereka sepakat bahwa peran dosen sangat krusial dalam memberikan dukungan dan bimbingan kepada mahasiswa yang mengalami masalah kesehatan mental.

Seminar ini menjadi momentum penting dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran dosen sebagai lini depan dalam penanganan gangguan mental mahasiswa. Diharapkan, dengan adanya kolaborasi antar-institusi dan kesadaran yang meningkat, penanganan masalah kesehatan mental di kalangan mahasiswa dapat menjadi lebih efektif dan berkelanjutan. (humas)