Industri 4.0 merupakan kekuatan, tantangan, peluang, dan ancaman. Kekuatan bila kita secara teknologi dan kompetensi telah siap bersaing, tanpa mengandalkan ilmu/teknologi/produk dari negara lain. Tantangan bagi kita semua untuk membentuk “inventing” Indonesia di masa depan. Peluang bagi sarjana baru karena setiap perubahan adalah peluang. Akan muncul bisnis yang tidak terbayangkan sebelumnya. Ancaman bagi kita yang tidak mau berubah. Demikian disampaikan oleh Prof. Dr. Jazi Eko Istiyanto, M.Sc., Dipl. Comp., IPU, Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) saat memberikan pidato ilmiahnya dalam Dies Natalis ke 46 IST AKPRIND Yogyakarta.

Sosok yang juga sebagai Guru Besar Elektronika dan Instrumentasi, fakultas MIPA UGM tersebut menambahkan, Era Industri 4.0 merupakan tantangan bagi anak bangsa untuk mengembangkan industri teknologi informasi, elektronika, dan instrumentasi, serta energi dalam negeri, agar mampu menjawab tantangan pemerintah di era industri 4.0 sehingga TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) produk-produk IT dan energi dapat selalu ditingkatkan sehingga tidak saja memberikan lapangan kerja bagi sarjana Indonesia dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia, tetapi juga memberikan kemandirian industri Indonesia. Saya sebut juga kemandirian energi karena produk IT tidak mungkin dapat digunakan tanpa keberadaan pasokan listrik. Server yang handal sangat mengandalkan kestabilan pasokan listrik, tidak hanya di Jawa, apalagi Jakarta, tetapi juga di setiap sudut wilayah Indonesia, tambahnya.

Bagi Prof. Jazi, sapaan akrab Prof. Dr. Jazi Eko Istiyanto, M.Sc., Dipl. Comp., IPU, Perguruan Tinggi seyogyanya mengajarkan kompetensi dengan cara project-based dan untuk menyelesaikan persoalan lokal. Project-based adalah mahasiswa tidak diajari tetapi ditantang untuk menghasilkan suatu produk (hardware, atau software, untuk jurusan eksakta ataupun kebijakan untuk jurusan sosial).  Perguruan tinggi juga harus memiliki roadmap. Sebagai contoh, beberapa skripsi harus dapat digabungkan menjadi suatu produk, yang mentrigger terbentuknya startups, yang satu atau dua dari ratusan atau ribuan startups ini diharapkan menjadi usaha sukses yang menghasilkan lapangan kerja, kesejahteraan, dan melepaskan ketergantungan pada import. Mengapa ini belum dilakukan? Jawabnya sederhana, yaitu karena kolaborasi dan sinergi adalah kebuah kemewahan, bahkan di dalam satu jurusan! Sejak kecil, kita dididik dengan penghargaan individu. Prestasi adalah prestasi individu (juara umum, juara kelas, juara karate tingkat kabupaten, dsb.). Tidak ada prestasi kelompok. Kalaupun ada, kolompok satu universitas, yang memunculkan anggapan satu universitas lebih baik dari lainnya, dalam segala hal, dalam semua aspek. Semestinya, ada pemetaan kompetensi universitas. Untuk jurusan yang sama, perguruan tinggi, tidak menekuni kompetensi yang sama. Penyeragaman adalah sesuatu yang berbahaya.

Apa yang dipelajari selama proses pendidikan telah membentuk bagaimana kita merumuskan masalah, memecahkan masalah, dan mencari solusi. Selain itu juga bagaimana kita harus berpihak kepada kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, berpihak kepada keadilan, kejujuran, integritas akademik, kedaulatan rakyat, keTuhanan dsb. Inilah yang membuat kita optimis bahwa kita akan dapat berperan di tataran nasional maupun internasional dengan menyumbangkan kompetensi kita untuk kepentingan ummat manusia. Tantangan bagi IST AKPRIND adalah bagaimana membuat IST AKPRIND yang baru berumur 46, tetapi inovasi, sinergi dan kolaborasi, membuat percepatan pendewasaan IST AKPRIND, pungkasnya. (tdj/ist)