Prodi Teknik Kimia Olah Cangkang Keong Jadi Pengawet Alami

0
174

Desa Wisata Organik kelurahan Wonolopo, Semarang merupakan sebuah desa dengan potensi wisata yang beragam. Desa wisata ini menyuguhkan atraksi tak hanya terbatas pada sektor kebudayaan, namun juga sektor peternakan, pertanian, dan wisata alam. Salah satu yang menjadi daya tarik pengunjung adalah hamparan persawahan yang membentang hijau. Lahan persawahan yang luas dimanfaatkan warga di desa tersebut untuk bercocok tanam, salah satunya tanaman padi. Namun, pada saat masa penanaman padi, hama keong kerap kali memakan rumpun padi. Ini menjadi masalah serius, sebab rumpun padi yang dimakan keong tidak dapat bertumbuh dengan baik.

Pertumbuhan keong yang makin pesat di musim hujan mengakibatkan makin seringnya intensitas petani untuk menyingkirkan hama tersebut secara manual. Selama ini keong yang telah diambil dari sawah hanya dimanfaatkan dengan memasak dagingnya, sedangkan cangkang keong hanya dibiarkan begitu saja menjadi limbah. Melihat fenomena ini, Program Studi Teknik Kimia IST AKPRIND Yogyakarta menciptakan inovasi untuk mengolah limbah cangkang keong menjadi kitosan, yakni obat pengawet sayur dan buah-buahan.

Bekerja sama dengan Lembaga Membangun Generasi Emas (MGE) dan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, Tim dari Prodi Teknik Kimia IST AKRIND Yogyakarta yang diketuai Sri Rahayu Gusmarwani, S.T., M.T., memberikan pelatihan kepada petani milenial di Desa Wisata Organik kelurahan Wonolopo, Semarang cara mengolah limbah cangkang keong menjadi kitosan.

“Kitosan merupakan modifikasi senyawa kitin yang terdapat dalam kulit luar hewan golongan Crustacea seperti udang, keong, dan kepiting. Inti dari proses ini adalah mengisolasi kalsium, sehingga mengubahnya menjadi bahan antibakteri dan kemampuannya untuk mengimobilisasi bakteri menjadikan kitosan dapat dapat digunakan sebagai pengawet makanan,” ujar Gusmarwani. Lebih lanjut ia juga menambahkan kitosan yang terbuat dari cangkang keong lebih tebal jika dibandingkan dengan yang berbahan baku kulit udang. Satu kilogram cangkang keong bisa diolah menjadi 200 gram kitosan.

Kitosan yang dihasilkan mampu mengawetkan buah dan sayur selama satu bulan. Penggunaan kitosan pun cukup mudah, cukup dengan melarutkan satu sendok kitosan dengan 100 mililiter air, kemudian tambahkan zat asam apa saja, atau bisa juga dengan menambahkan cuka makan satu sendok teh. Kitosan yang telah dilarutkan kemudian bisa disemprotkan ke sayur atau buah.

Selain dihadiri oleh tim dosen Prodi Teknik Kimia IST AKPRIND Yogyakarta dan petani milenial, pelatihan pengolahan cangkang keong menjadi kitosan ini juga turut dihadiri oleh Wakil Wali Kota Semarang Ir. Hj. Hevearita Gunaryanti Rahayu, M. Sos., dan Founder Lembaga Membangun Generasi Emas (MGE) Sapto Nugroho. (rsw)