Pengukuhan Guru Besar IST AKPRIND, Prof. Dr. Ir. Sudarsono, M.T.

0
30

Prof. Dr. Ir. Sudarsono, M.T., dikukuhkan dalam jabatannya sebagai Guru Besar atau Profesor dalam Sidang Terbuka Senat Akademik IST AKPRIND Yogyakarta hari ini, Kamis (31/10) di Auditorium kampus I. Prof. Dr. Ir. Sudarsono, M.T., dosen pada jurusan Teknik Mesin menjadi dosen dengan jabatan akademik Guru Besar atau Profesor pertama yang dihasilkan oleh IST AKPRIND. Hal tersebut sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor : 28027/M/KP/2019 tentang Kenaikan Jabatan Akademik Dosen yang ditandatangani Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir tertanggal 21 Agustus 2019.

Sidang Terbuka Senat Akademik dihadiri pula oleh Guru Besar Tamu antara lain Prof.Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met., Prof. Dr. Ir. Johny Wahyuadi M, DEA., dan Prof. Dr. Ir. Dedi Priadi, DEA dari Universitas Indonesia, Dr.Ir. Purwanto, DEA dan Prof. Dr.Ir.Syafrudin, CES,M.T., (Universitas Diponegoro), Prof. Kuncoro Diharjo, S.T., M.T, MSIE., (Universitas Sebelas Maret), dan Prof. Dr. Ir. Indarto, DEA. (Universitas Gadjah Mada). Pengukuhan Guru Besar kepada Prof. Dr. Ir. Sudarsono, M.T., dengan pengalungan samir oleh Rektor IST AKPRIND Yogyakarta, Dr. Ir. Amir Hamzah, M.T, yang disaksikan oleh Sekretaris Senat Akademik. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyematan Pin Emas oleh Ketua Yayasan Pembina Potensi Pembangunan (YPPP) Ir. Sagoro Wedy, M.M., selaku Badan Penyelenggara IST AKPRIND serta disaksikan oleh Ketua Pembina YPPP yang juga pendiri IST AKPRIND, H.M. Suwardi, S.E.

Pengukuhan Guru Besar dalam Sidang Senat Terbuka dihadiri sekitar 300 undangan baik dari dosen dan tenaga kependidikan internal IST AKPRID maupun para akademisi dan beberapa pimpinan perguruan tinggi di Yogyakarta dan Sekitarnya. Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Dr. Sudarsono, M.T, memaparkan pentingnya meningkatkan energi baru terbarukan. Utamanya dengan meningkatkan keberadaan pembangkit listrik dengan memanfaatkan energi kincir angin. Sebab potensi energi angin di Indonesia sangat besar dan belum dimanfaatkan secara maksimal. (tdj)