Mengenal Bahaya Abu Vulkanik Gunung Merapi dan Dampaknya Bagi Kesehatan Lingkungan

0
276

Berdasarkan evaluasi data pemantauan BPPTKG, status aktivitas Gunung Merapi ditingkatkan dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12.00 WIB. Status siaga Gunung Merapi serta terjadinya erupsi pada beberapa hari terakhir juga disikapi oleh masyarakat Yogyakarta khususnya wilayah Kabupaten Sleman. Perum Soka Asri, Purwomartani, Kalasan, Sleman, yang berjarak lebih dari 20 Km dari puncak Merapi juga memepersiapkan diri dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan dampak yang muncul dari terjadinya erupsi gunung Merapi. Pengalaman pada Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 lalu, wilayah ini diguyur hujan abu erupsi Merapi. Salah satu persiapan yang dilakukan adalah menyelenggarakan sosialisasi Bahaya Abu Vulkanik Gunung Merapi dan Dampaknya Bagi Kesehatan Lingkungan dengan narasumber Dosen Teknik Geologi IST AKPRIND Yogyakarta

Ir. Dwi Indah Purnamawati, M.Si., dosen senior jurusan Teknik Geologi IST AKPRIND hadir di hadapan warga Perum Soka Asri RT 07 RW 03 Purwomartani Kalasan Sleman untuk mensosialisasikan Bahaya Abu Vulkanik Gunung Merapi dan Dampaknya Bagi Kesehatan Lingkungan. Menurut Dwi Indah Purnamawati, Saat meletus secara umum Gunung Merapi menyemburkan zat-zat kimia seperti uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida, asam klorida, asam fluorida. Dampak paling umum dari abu vulkanik adalah terkontaminasinya air bersih. sehingga masyarakat diharapkan tidak mengkonsumsi air yang terkontaminasi abu vulkanik karena bisa mengakibatkan diare. Selain itu zat kimia dari abu vulkanik yang bersifat asam dapat mencemari air tanah dan bila tercampur dengan air hujan. Abu vulkanik yang terkontaminasi dengan air hujan juga bersifat korosif, sehingga berpotensi merusak peralatan yang mengandung logam.

Sementara gangguan kesehatan yang sering muncul setelah terjadinya hujan abu vulkanik adalah gangguan pernafasan atau ISPA. Selain itu juga gangguan penglihatan. Sebab abu vulkanik mengandung partikel-partikel logam yang tajam. Sehingga saat hujan abu terjadi, kita sering mendengar meningkatnya penderita ISPA. Untuk menghindari gangguan kesehatan yang kemungkinan timbul saat terjadinya hujan abu vulkanik, masyarakat harus menutup sumber air bersih seperti sumur serta bak-bak penampungan air bersih agar tidak terkontaminasi abu vulkanik. Pada saat terjadi hujan abu vulkanik, masyarakat sebaiknya tetap didalam rumah. Apabila terpaksa harus keluar rumah, harus menggunakan masker, kacamata maupun jaket. Jaket diperlukan karena abu vulkanik jika terkena langsung ke kulit bisa menyebabkan gatal, iritasi dan bisa terjadi infeksi apabila digaruk.

Ketua RT 007 RW 03 Perum Soka Asri Purwomartani Kalasan Sleman mengaku bahwa sosialisasi Bahaya Abu Vulkanik Gunung Merapi sangat bermanfaat bagi warganya. Dengan adanya sosialisasi tersebut, masyarakat diwilayahnya diharapkan menjadi masyarakat yang siaga bencana. Sehingga saat terjadi bencana atau hujan abu vulkanik gunung Merapi warganya tidak panik, namun justru bisa bersiap untuk mengantisipasi serta mencegah terjadinya hal-hal yang memiliki dampak negatif. (tdj)