IST AKPRIND Yogyakarta Bantu Kembangkan Pewarna Alami Shibiru

0
132

Dalam industri tekstil, proses pewarnaan berlangsung beberapa tahap yakni pencelupan, pencetakan, dan pelapisan. Pada saat ini ada sekitar 10.000 jenis pewarna dan pigmen yang digunakan dalam industri tekstil di seluruh dunia. Sebagian besar limbah pewarna tekstil ini secara signifikan memiliki potensi bahaya terhadap kualitas estetika badan air. Pewarna tekstil juga meningkatkan jumlah polutan organik dalam air sehingga menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen untuk penguraian secara biokimia (BOD) maupun oksigen untuk penguraian secara kimia (COD). Adanya zat warna dalam air limbah tekstil akan menghalangi penetrasi sinar matahari sehingga menghalangi proses fotosintesis tumbuhan yang hidup di bawah permukaan air dan menghambat pertumbuhannya. Gangguan pertumbuhan tanaman perairan ini akan berdampak pada gangguan fauna yang memakannya. Secara keseluruhan akan terjadi gangguan kehidupan di ekosistem perairan yang terpapar limbah pewarna. Polutan ini juga dapat memasuki rantai makanan dan mengalami proses bioakumulasi dalam jaringan biota perairan. Dengan demikian dapat  terjadi peningkatan toksisitas, mutagenisitas dan karsinogenisitas.

Mengingat dampak polutan zat pewarna terhadap lingkungan perairan yang cukup luas, maka para pakar berupaya untuk menemukan dan memproduksi zat pewarna tekstil alami yang lebih mudah terurai di lingkungan. Salah satu produk pewarna alami yang mulai banyak diminati adalah pigmen biru yang berasal dari daun Strobilanthes cusia yang intensitas warnanya lebih tajam dibanding pigmen biru yang berasal dari Indigofera tinctoria.

Salah satu produsen pewarna tekstil alami dari daun Strobilanthes cusia adalah UMK Shibiru yang berlokasi di Ngempon, Ngadirejo, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah. UMK ini memilih menempatkan area produksi di kalurahan Wonoboyo, Kecamatan Wonoboyo, Temanggung agar lebih dekat dengan kebun Strobilanthes. Bahan baku ini dipasok oleh 179 petani aktif yang tergabung dalam koperasi Shidobiru Sakatani Makmur. Mereka menanam bahan baku di lahan seluas 65 ha sebagai tanaman tumpang sari pada kebun kopi dan kebun jambu biji. Dengan aktivitas ini petani cukup diuntungkan karena pendapatannya dapat meningkat secara signifikan. Panen kopi dilakukan setahun 2 kali dan daun Strobilanthes dapat dipanen 3-4 kali. Nilai jual daun strobilanthes juga cukup menjanjikan dengan harga Rp 2500,-/kg dan kapasitas panen sebesar 10 ton/ha.

Pada kondisi normal sebelum adanya pandemi, UMK Shibiru mampu menjual 750 -1000 kg pasta pewarna/bulan dengan pelanggan dari berbagai sentra industri tekstil di seluruh Indonesia. Jumlah ini mengisi 30% pangsa pasar di Indonesia. Selain konsumen dalam negeri, UMK Shibiru juga sudah menjual produknya ke 6 negara manca melalui pihak ke 3. Di samping menjual produk pasta, UMK Shibiru juga melayani jasa pencelupan kain batik dan benang dari beberapa sentra produksi tekstil tradisional seperti dari Bali, Banjarmasin, Solo, Pekalongan, dan Yogyakarta. Dengan demikian, keberadaan dan keberlangsungan kegiatan UMK Shibiru ini dapat memberi manfaat bagi petani strobilantes,  pengusaha jasa layanan pencelupan setempat maupun pemakai manfaat produk pastanya di berbagai sentra industri tekstil.

Pada masa pandemi usaha pasta pewarna ini mengalami penurunan. Proses produksi menjadi tersendat-sendat karena permintaan yang sangat menurun. Untuk mencegah penurunan lebih lanjut, dalam kesempatan jarangnya proses produksi ini kemudian digunakan untuk mengevaluasi dan memperbaiki beberapa kelemahan yang masih dialami dalam pengelolaan UMK Shibiru. Beberapa kelemahan tersebut antara lain: proses produksi yang belum optimal karena proses maserasi, aerasi, dan pencelupan masih dilakukan secara sederhana. Batang muda dan daun Strobilanthes hanya dimaserasi dalam bak begitu saja, dalam kurun waktu 3 hari. Sisa daunnya kemudian diangkat, cairan yang diperoleh ditambahkan larutan kapur. Proses aerasi dengan pompa, selangnya harus dipindah-pindah ke beberapa bak maserasi. Limbah padat berupa sisa batang dan daun serta limbah cairnya dalam jumlah banyak juga belum dikelola secara layak. Sisi lemah lainnya adalah produk UMK Shibiru belum memiliki merek. Pasta pewarna hanya dikemas dengan plastik ala kadarnya dan diikat. Proses produksi pasta pewarna ini belum memiliki paten dan belum memliki Surat Pernyatan Pengelolaan Lingkungan Hidup (SPPLH). Pengenalan produknya juga belum didukung oleh website yang informatif.

Dalam rangka mengatasi berbagai kendala yang dihadapi oleh UMK Shibiru, maka tim dosen di IST AKPRIND Yogyakarta dari program studi Teknik Mesin, Teknik Kimia dan Teknik Lingkungan mengajukan proposal kegiatan Matching Fund melalui Kedaireka. Adapun teknologi tepat guna yang disumbangkan kepada UMK Shibiru dan koperasi Sidobiru Sakatani Makmur terdiri atas 8 macam produksi TTG, yaitu Mesin perajang tanaman Strobilanthes cusia berfitur konveyor, unit sistem maserasi dan aerasi, bak pengolahan limbah padat menjadi kompos, mesin pengisian pasta dalam kemasan, mesin pengemasan plastik jenis band continuous sealer FR-900 V Getra, website dan akun media sosial UMK Shibiru, pengurusan SPPLH, dan pengurusan ekspor dan merk dagang.

Alat-alat ini diserahterimakan kepada mitra industri oleh pihak IST AKPRIND dengan dihadiri oleh  Rektor Dr. Edhy Sutanta, S.T, M.Kom., Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaa, Alumni, dan Kerja Sama Dr. Emy Setyaningsih, S.Si, M.Kom., Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) yang diwakili oleh Kepala Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat Beny Firman, S.T., M.Eng., Pembina Kegiatan Penelitian dan Abdimas Dr. Suparni Setyowati Rahayu, M.Si., Kepala Bagian Administrasi Kerja Sama Andhika Prasetya, S.Sos. Acara yang diselenggarakan pada hari Senin, 8 November di area produksi dusun Klaseman, Wonoboyo juga dihadiri Kepala Bappeda Temanggung Ir. C. Masrik Amin Zuhdi, M.M., Sekretaris Bappeda Sumarlinah S.Sos, M.Si., Kepala Dinperinaker Agus Sarwono S.Sos., M.M., Kepala Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Sri Haryanto, S.Sos., M.M., Kepala Dinas Pertanian Joko Budi Nuryanto, SP., M.Si, Kepala Desa Wonoboyo Irfan, Camat Wonoboyo Tulus Mardiono, S.IP, Founder & CEO UMK Shibiru Fatah Syaifur Rohman, perwakilan petani Strobilanthes cusia yang tergabung dalam koperasi Sidobiru Saka Tani Makmur, serta pengurus UMK Shibiru.

Tim Matching Fund terdiri atas 6 orang pembimbing, dengan ketua Dra. Sri Sunarsih, M.Si., dengan anggota Dewi Wahyuningtyas, S.T., M.Eng., Ir. Murni Yuniwati, M.T., Dra. Yuli Pratiwi M.Si., Paramita Dwi Sukmawati, S.T., M.Eng., dan Satriawan Dini Hariyanto, S.T., M.Eng. Tim ini juga didukung sepenuhnya oleh C. Indri Parwati, S.T., M.T., dan 17 mahasiswa dari 4 program studi yakni Prodi Teknik Kimia, Teknik Mesin, Rekayasa Sistem Komputer, dan Prodi Teknik Lingkungan. (SS)