IST AKPRIND Bantu Alat Pengering Kerupuk Rambak di Gantiwarno, Klaten

0
10

Dusun Bayanan, Gesikan, Gantiwarno, Klaten merupakan desa yang sebagian warganya memproduksi kerupuk rambak. Pemasaran dilakukan secara tradisional, dengan dijual di pasar atau melului koperasi. Proses pembuatan dilakukan secara manual dengan alat sederhana karena keterbatasan pendanaan dan inovasi dari pengrajin. Masalah yang dihadapi mulai dari peralatan hingga pemasaran dan persaingan usaha dari daerah lain. Masalah yang paling menonjol adalah proses pengeringan dari kerupuk rambak yang sudah dipotong. Proses pengeringan menjadi kunci dari kerupuk rambak, sebab apabila pengeringan tidak sempurna, saat penggorengan akan boros minyak goreng dan tidak mengembang. Sehingga produk yang demikian ini tidak layak jual dan hanya dibuang.

Melihat permasalahan yang dihadapi pembuat kerupuk rambak, tim abdimas IST AKPRIND dengan ketua tim pengusul, Dr. Ir. Sudarsono, M.T., menawarkan solusi agar pengeringan bahan kerupuk rambak menjadi sempurna kepada salah satu pembuat kerupuk rambak, Sriwijaya. Solusi yang ditawarkan adalah Alat pengering bahan kerupuk rambak yang ramah lingkungan. Alat pengering hasil karya tim abdimas IST AKPRIND tersebut tidak menggunakan bahan bakar dan hanya dengan memaksimalkan panas dari sinar matahari. Sehingga pengeringan akan jauh lebih maksimal dan lama pengeringan dapat dipercepat, sehingga jumlah produksi dapat meningkat. Kondisi alat pengering yang tertutup juga akan melindungi kerupuk rambak dari debu dan saat hujan turun. Sebab selama ini pengeringan hanya dilakukan dengan menaruh potongan kerupuk rambak pada lantai. Kondisi ini juga akan berakibat fatal apabila terjadi hujan tiba-tiba, kerupuk rambak yang sudah menjadi kering akan menjadi basah kembali.

Ketua Tim Pengusul Dr. Ir. Sudarsono, M.T., didampingi dua anggotanya Hadi Prasetyo Suseno, S.T., M.Si., Yuli Purwanto, S.T., M.Eng. mengungkapkan bahwa abdimas ini merupakan Program Kemitraan Masyarakat dengan judul Rancang Bangun Alat Pengering Kerupuk Rambak yang Ramah Lingkungan dan Pengolahan Limbah Minyak Goreng yang dibiayai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Sudarsono menambahkan bahwa Perguruan Tinggi memiliki kewajiban menerapkan ilmu-ilmu dalam pendidikan untuk dibadikan kepada masyarakat. Hal tersebut merupakan salah satu implementasi tridharma perguruan tinggi. Salah satunya adalah alat pengering rambak ini. Penerapan iptek bagi masyarakat dengan penggunaan alat pengering yang ramah lingkungan merupakan penerapan inovasi melalui Teknologi Tepat Guna ( TTG ) yang akan mempengaruhi tata nilai dalam masyarakat. Pada kesemptan tersebut, tim abdimas IST AKPRIND juga memberikan pemahaman tentang pentingnya kebersihan dalam meproduksi makanan. (tdj)