Gandeng BNNP dan POLDA DIY Berikan Pemahaman Bahaya Narkoba dan Korupsi

0
30

Korupsi dan Narkoba termasuk dalam extraordinary crime atau kejahatan luar biasa. Karena  kejahatan tersebut bukan hanya mempengaruhi pelaku dan korban secara langsung semata namun juga mampu merusak sendi-sendi bangsa. Sebab korupsi dan narkoba benar-benar telah terbukti dengan jelas merusak moral dan mentalitas bangsa. Sebagai upaya mencegah dan menanamkan tentang bahaya korupsi dan Narkoba, IST AKPRIND memberikan pembekalan kepada para mahasiswa melalui pelatihan pengembangan kepribadian bagi mahasiswa IST AKPRIND.  Mengangkat tema “Aku dalam IST AKPRID dan Indonesia”, IST AKPRIND mencoba menanamkan pendidikan karakter sejak dini bagi mahasiswa.

Kepala Bagian Kemahasiswaan dan Alumni IST AKPRIND, Eko Wijanarko, B,Sc menggandeng Kepolisian Daerah Instimewa Yogyakarta (POLDA DIY) serta Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIY sebagai narasumber dalam kegiatan ini. Menurut Eko, dalam kegiatan yang diselenggarakan selama 2 hari, Selasa-Rabu (29-30/1) tersebut diikuti oleh seluruh mahasiswa angkatan 2018.

Santy Dwi K,AMK, SKM dan Dyah Wulandari Setyarini, SIP dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIY menyebutkan angka Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia sangat tinggi. Saat ini kurang lebih 5 juta jiwa masyarakat Indonesia terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Hal tersebut merupakan fenomena gunung es. Kondisi Geografis Indonesia yang terbuka dan jumlah penduduk yang besar menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar narkoba terbesar di Asia Tenggara. Sehingga masyarakat terpelajar seperti mahasiswa harus selalu waspada agar tidak masuk dalam lingkungan yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Mahasiswa harus peka terhadap lingkungan, ujarnya.

Sementara materi korupsi disampaikan oleh Iptu Karno Anggoro, S.H., selaku Penyidik Tindak Pidana Korupsi POLDA DIY. Karno Anggoro mengemukakan bahwa sifat dari tindak pidana korupsi tidak dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Namun walaupun kecil, dampak yang dihasilkan sangat luar biasa dan berantai. Sehingga dapat merusak moral bangsa dan yang paling dirugikan adalah masyarakat kecil. Bentuk korupsi paling umum terjadi adalah penggelapan, mark up/mark down, penyuapan, pemerasan, pungli, pelicin ataupu penerimaan hadiah dari pihak yang dimungkinkan memiliki kepentingan tertentu. Oleh sebab itu, Karno Anggoro mengajak mahasiswa mengurangi atau justru menghilangkan benih-benih korupsi seperti titip absen, nyontek, plagiat, tidak mau bekerjasama dalam kelompok, ataupun membuatSPJ fiktif.

(tdj)