IST AKPRIND Bantu TTG untuk Pande Besi Bantul

0
903

Industri logam alat-alat pertanian senantiasa membutuhkan inovasi baik terkait bahan baku maupun proses pembuatannya. Sebagian besar industri yang biasa disebut sebagai pande besi ini  merupakan industri rumahan yang dilakukan secara manual secara bersama-sama oleh beberapa orang. Namun semakin sulitnya mencari orang yang mau bekerja sebagai pandai besi menjadi permasalahan tersendiri. Melihat hal tersebut, tim program kemitraan masyarakat IST AKPRIND yang dimotori oleh Ir. Joko Waluyo, M.T., Dra. Yuli Pratiwi, M.Si., serta Indri Parwati, S.T., M.T., merancang  Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa  “Mesin Tempa Ramah Lingkungan” guna meningkatkan kapasitas produksi pada Kelompok Pande Besi”.

TTG yang berupa mesin tempa ramah lingkungan hasil karya ketiga dosen IST AKPRIND tersebut diserahkan secara langsung oleh kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IST AKPRIND, Dr. Ir. Sudarsono, M.T., kepada dua kelompok pande besi yang menjadi mitra di wilayah kecamatan Pandak, kabupaten Bantul, Rabu (10/10). Kelompok mitra pertama yang menerima adalah kelompok pande besi “DL” pimpinan Jumaryono yang berada di padukuhan Karang Asem RT 04 Desa Gilang Harjo. Sementara mitra kedua adalah kelompok Pande Besi “PRT” pimpinan Dwijo Sutrisno di Padukuhan Karasan RT 01 Desa Palbapang. Dr. Ir. Sudarsono, M.T., saat menyerahkan bantuan peralatan kepada mitra berharap bantuan tersebut dapat bermanfaat kepada kelompk pande besi ditengah sulitnya mencari tenaga kerja baru. Kepala LPPM menambahkan  bahwa perguruan tinggi sebagi tempat bernaungnya para ilmuwan harus mampu menjawab permasalahan yang timbul ditengah masyarakat. Setinggi apapun  ilmu yang dimiliki, namun jika tidak memberikan manfaat serta tidak dapat diaplikasikan kepada masyarakat maka akan sia-sia.

Pada kesempatan yang sama Ir. Joko Waluyo, M.T., selaku ketua tim program kemitraan masyarakat mengungkapkan bahwa program pembuatan mesin tempa kepada dua mitra pande besi tersebut merupakan implementasi dari hibah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di Perguruan Tinggi tahun 2018 yang didanai oleh Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristekdikti. Menurut Joko Waluyo, kegiatan pande besi wilayah Bantul terbentur dengan semakin berkurangnya minat generasi muda untuk menekuni profesi tersebut. Pembuatan peralatan pertanian oleh pande besi merupakan proses pemanasan bahan baku yang berupa besi atau sejenisnya untuk ditempa berulang-ulang menggunakan palu dan dibentuk sesuai bentuk alat pertanian yang diinginkan. Sehingga dalam proses tersebut paling tidak dibutuhkan 3 sampai 4 orang tenaga kerja. Permintaan pasar belum bisa terpenuhi karena produktivitas yang relatih masih rendah dan kurang effisien. Dengan alat tempa karyanya tersebut Joko Waluyo, dkk optimis selanjutnya kapasitas produksi alat-alat pertanian di kedua mitra kelompok pande besi tersebut dapat meningkat menjadi 2 sampai 3 kali apabila dibandingkan dengan menggunakan tenaga manusia, dan pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan kelompok pande besi mitra maupun masyarakat pande besi secara umum. (tdj)