Home Authors Posts by humas

humas

18 POSTS 0 COMMENTS

145 Pesilat Bertarung di AKPRIND Cup 2017

Sebanyak 145 Pesilat dari 29 SMA/SMK/MA di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta mengikuti Kejuaraan Pencak Silat AKPRIND Cup antar SMA/SMK/MA Sederajat Se-DIY di auditorium IST AKPRIND, Jum’at-Minggu (21-23/7). Kegiatan yang memperebutkan piala bergilir Rektor IST AKPRIND tersebut, dibuka secara resmi oleh Dr. Ir. Amir Hamzah, M.T selaku rektor IST AKPRIND Yogyakarta.

Saat membuka kejuaraan pencak silat tersebut rektor IST AKPRIND menyampaikan, walaupun IST AKPRIND merupakan Perguruan Tinggi yang fokus pada bidang Sains & Teknologi tetapi turut memiliki kepedulian terhadap bidang lain seperti olah raga pencak silat ini. Pencak silat sebagai salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa di IST AKPRIND memiliki kelebihan dibandingkan yang lain. Karena dalam UKM Pencak silat terdapat 3 perguruan yang  seperti Merpati Putih, Perisai Diri serta Setia Hati Terate. Sehingga walaupun terdapat tiga perguruan yang berbeda kekompakan dalam mengembangkan UKM ini sangat kuat.

Ketua Panitia, Wahyu yang didampingi oleh Wakil Rektor bidang kemahasiwaan, alumni dan kerjasama, Ir. Joko Waluyo, M.T menjelaskan bahwa penyelenggaraan kejuaraan yang mengambil tema “Pencak SIlat Spirit of Indonesia, Jangan Mau Punah di Negeri Sendiri,’ tersebut merupakan salah satu program kerja UKM Pencak Silat IST AKPRIND. Tujuan dari penyelenggaraan ini adalah untuk meningkatkan motivasi dan minat pelajar untuk dapat berprestasi di bidang Olahraga Pencak Silat serta memperkenalkan kampus IST AKPRIND Yogyakarta di kalangan SMA/SMK/ MA Sederajat di DIY. Disamping itu juga untuk mengajak pelajar untuk berperan dalam melestarikan budaya Pencak Silat Indonesia.

Pencak Silat adalah seni beladiri yang merupakan warisan nenek moyang dan merupakan kebudayaan bangsa Indonesia. Pencak silat berkembang sejalan dengan sejarah masyarakat Indonesia, dengan aneka ragam situasi geografis dan etnologis serta perkembangan zaman yang dialami oleh bangsa Indonesia, pencak silat dibentuk oleh situasi dan kondisinya. Kini pencak silat kita kenal dengan wujud dan corak yang beraneka ragam, namun mempunyai aspek yang sama tanpa kehilangan jati dirinya. Sebagai suatu budaya warisan, sudah semestinya bila pencak silat dipertahankan, dikembangkan, dan dilestarikan eksistensinya. Kita seharusnya patut bangga bahwasannya beladiri peninggalan nenek moyang kita pencak silat sudah mulai tumbuh dan menyebar di bagian belahan dunia di berbagai negara tetangga seperti: Singapura, Malaysia, jepang, Amerika, Belanda, dll. Hampir di semua benua ada pencak silatnya, dengan kata lain perkembangannya sudah sekian jauh dan berkembang sepeti yang di harapkan. Namun, lain hal fenomena yang kita hadapi di dalam negeri, dalam upaya mendukung kegiatan tersebut di tengah generasi muda sudah semakin sempit, Akibatnya bisa kita lihat, kejayaan seni budaya pencak silat yang dimiliki oleh Indonesia sudah semakin surut, dan yang mempriatinkan ialah generasi muda sudah seakan kurang peduli terhadap aset seni budaya yang dimiliki oleh bangsanya sendiri. Ditambah lagi, generasi muda saat ini sangat rentan terpengeruh oleh pergaulan bebas yang sering merujuk kearah negatif. (tdj)

 

Science, Technology, Society

Memanfaatkan jeda waktu perkuliahan pasca ujian akhir semester genap Tahun Akademik 2016-2017, jurusan Teknik Lingkungan IST AKPRIND Yogyakarta menyelenggarakan kuliah umum bagi mahasiswa. Upaya tersebut guna memfalisitasi mahasiswa agar memperoleh pengetahuan dibidang lingkungan, baik dari segi teknologi maupun kemasyarakatan. Kuliah umum diselenggarakan di auditorium IST AKPRIND Yogyakarta, Rabu (19/7).

Kuliah Umum dengan mengangkat judul Science, Technology and Society menghadirkan narasumber yang kompeten serta memiliki keahlian dibidang lingkungan, Prof. Dr.I Gusti Putu Suryadarma, MS., yang juga merupakan Guru Besar Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta. Menurut Prof. Dr.I Gusti Putu Suryadarma, MS., Science, Technology, Society di Indonesia lebih sering disebut sains, teknologi dan masyarakat lingkungan dapat didefinisikan sebagai pendekatan  belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia. Pendekatan ini diharapkankan mampu menjembatani kesenjangan yang ada. Kesenjangan yang dimaksud adalah pesatnya kemajuan iptek, membanjirnya informasi ilmiah dalam dunia pendidikan, dan nilai-nilai iptek itu sendiri dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Sehingga dengan pemahaman sains, teknologi dan lingkungan masyarakat mampu memberikan pemahaman tentang kaitan antara sains teknologi dan masyarakat, melatih kepekaan penilaian peserta didik terhadap dampak lingkungan sebagai akibat perkembangan sains dan teknologi, sambungnya.

Sementara, Ketua Pelaksana kegiatan yang juga Ketua Jurusan Teknik Lingkungan, Purnawan, S.T., M.Eng, mengungkapkan, melalui kegiatan kuliah umum bagi mahasiswa IST AKPRIND tersebut diharapkan mampu menyandingkan antara teknologi dan masyarakat. Menurut Purnawan, dinamika perubahan lingkungan hanya mampu diatasi oleh sains dan teknologi. Sehingga, walaupun dalam program studi Teknik Lingkungan, materi yang diajarkan selama perkuliahan juga bukan hanya berkutat pada bidang ilmu lingkungan saja, melainkan juga bidang lain yang berkaitan dengan sains & teknologi yang turut menunjang bidang ilmu lingkungan. (tdj)